Jiwakelompok9’s Weblog

Terapi Kelompok untuk Mengatasi Stres

May 26, 2008 · Leave a Comment

 

SITUASI mental yang tidak stabil, merupakan salah satu penyebab mudahnya seseorang terkena psikosomatis, yaitu rentannya kondisi tubuh terhadap berbagai penyakit karena faktor psikis (kejiwaan). Untuk itu perlu coping stress yaitu cara mengatasi stres yang sederhana dan mudah dilakukan dengan Solution Focus Group Therapy (terapi diskusi kelompok).

 

Jika sekelompok orang yang sedang mempunyai masalah mau menceritakan pengalamannya, dan mencurahkan emosinya kepada orang lain, maka akan tercipta perasaan empati satu sama lain.

 

Dari sini kekuatan untuk dapat bertahan menghadapi segala kesulitan hidup dapat diperoleh. Ini penting guna memunculkan kembali rasa kebersamaan, khususnya untuk penduduk di kota-kota besar yang telah pudar akibat tumbuh suburnya semangat individualitas penyebab masing-masing individu memikirkan kepentingannya sendiri.

 

Linda Metcalf berkata, bahwa solution focused group therapy dapat menjadi satu alternatif yang luar biasa bagi seseorang untuk sembuh dan keluar dari masalahnya serta menemukan satu solusi yang baik.

 

Lewat terapi ini mereka diajak berkumpul, dan saling membagikan cerita maupun perasaan yang sedang dialaminya terutama mengenai masalah yang sedang dihadapinya.

 

Tanpa sadar momen ini akan memancing inisiatif dan pemikiran terpendam dari masing-masing anggota untuk keluar

 

Dapat Dihadapi

 

Kelebihan lain dari cara ini adalah bisa diterapkan dalam kondisi apa pun. Terlebih lagi, karena masyarakat kita mempunyai kebiasaan duduk-duduk di pos ronda, warung kopi, atau teras depan rumah hanya untuk ngobrol sampai berjam-jam.

 

Tidak hanya itu, saat jam istirahat kerja, atau pada waktu senggang kita selalu memanfaatkannya untuk ngobrol dengan sesama rekan. Faktor budaya seperti itu sangat mendukung penerapan metode ini dilaksanakan secara maksimal.

 

Disamping itu, juga melatih seseorang untuk sedikit demi sedikit memunculkan pemikiran-pemikiran kreatifnya sehingga tidak mudah menyerah dengan keadaan.

 

Di sini, berbagai ide sangat dihargai dan pasti didengarkan terutama ketika perasaan sebagai satu saudara sudah didapat. Orang yang memiliki tipe introvert akan terpancing untuk mencurahkan dan mengeluarkan pendapatnya dalam diskusi kelompok.

 

Kepribadian Terbuka

 

Proses menuju ke arah pembicaraan yang diinginkan memang seringkali tidak mudah, karena ada yang selalu berusaha menutupi dan menyimpan persoalannya sendiri dalam hati. Karena itu, diusahakan agar dalam satu kelompok didominasi oleh jenis kepribadian terbuka atau ekstrovert daripada introvert.

 

Masing-masing individu kemudian secara langsung termotivasi menjadi terapis kecil untuk dirinya sendiri.

 

Selanjutnya tahapan yang sebaiknya dilakukan adalah sebagai berikut: satu, buatlah satu kelompok kecil yang terdiri dari kurang lebih lima orang atau lebih dan mereka telah saling mengenal .

 

Dua, bukalah seluruh kesulitan, beban hidup yang dialami berkaitan dengan fokus perkara yang akan dibahas. Tiga, dengarkanlah dan hormatilah lawan bicara untuk mencurahkan semua perasaannya satu-persatu sampai tuntas, bahkan sampai menangis-pun boleh justru itu sangat efektif dan bagus untuk mengeluarkan emosi.

 

Empat, bukalah sesi di mana seluruh individu bebas untuk menimpali dan memotong lawan bicaranya dengan tujuan utama memberikan satu solusi yang berguna. Arahkan bersama untuk memikirkan apa yang terbaik bagi kelompok dan masyarakat.

 

Kekuatan utama terletak pada kemampuan verbal dan curhat dari anggota, karena proses healing (penyembuhan) terjadi di sini.

 

Segala luka-luka batin dan beban yang mengganjal dikeluarkan secara lugas dan ini membuat pertahanan diri manusia mulai terbuka sehingga orientasi ke arah diri sendiri atau ego-nya berkurang.

 

Untuk membantu orang dengan kepribadian yang benar-benar tertutup, bisa juga diberi sesi khusus sebelum diskusi dimulai. Yakni mempersilahkan menggambar pengalaman yang paling traumatis dalam hidupnya pada suatu kertas besar kemudian saling menceritakan pengalamannya.

 

Ini sangat membantu, khususnya untuk yang bertipe introvert agar mencurahkan emosi yang belum terselesaikan dan mempersiapkan masuk dalam topik pembicaraan.

 

Ada beberapa macam kegiatan pengganti selain menggambar. Misalnya menggunakan tanah liat dibentuk menjadi semacam benda yang mewakili perasaannya. Dengan cara yang sama mereka akan mengungkapkan apa yang dialami saat itu.

 

Setelah tahapan ini berhasil, kelompok terapi tersebut diharapkan membentuk satu grass root yang kokoh, kemudian dibuat jaringan yang tersusun dari tim-tim diskusi dengan insight-nya masing-masing yang menjadi komponen dan elemen inti dari wadah ini. (RB Yoga Kuswandono-11)

→ Leave a CommentCategories: Terapi Kelompok

contoh Terapi Lingkungan

April 22, 2008 · Leave a Comment

Berikut adalah video terapi lingkungan

 

http://www.youtube.com/watch?v=NDfVxQ8KgSk

 

 

→ Leave a CommentCategories: Terapi Lingkungan

Memilih Peserta Terapi Kelompok

April 22, 2008 · Leave a Comment

Prinsip memilih pasien untuk terapi aktifitas kelompok adalah homogenitas

, yang dijabarkan antara lain;

1. Gejala sama

Misal terapi aktifitas kelompok khusus untuk pasien depresi, khusus untuk pasien halusinasi dan lain sebagainya. Setiap terapi aktifitas kelompok memiliki tujuan spesifik bagi anggotanya, bisa untuk sosialisasi, kerjasama ataupun mengungkapkan isi halusinasi. Setiap tujuan spesifik tersebut akan dapat dicapai bila pasien memiliki masalah atau gejala yang sama, sehingga mereka dapat bekerjasama atau berbagi dalam proses terapi.

2. Kategori sama

Dalam artian pasien memiliki nilai skor hampir sama dari hasil kategorisasi. Pasien yang dapat diikutkan dalam terapi aktifitas kelompok adalah pasien akut sekor rendah sampai pasien tahap promotion. Bila dalam satu terapi pasien memiliki skor yang hampir sama maka tujuan terapi akan lebih mudah tercapai.

3. Jenis kelamin sama

Pengalaman terapi aktifitas kelompok yang dilakukan pada pasien dengan gejala sama, biasanya laki-laki akan lebih mendominasi dari pada perempuan. Maka lebih baik dibedakan.

4. Kelompok umur hampir sama

Tingkat perkembangan yang sama akan memudahkan interaksi antar pasien.

5. Jumlah efektif 7-10 orang per-kelompok terapi

Terlalu banyak peserta maka tujuan terapi akan sulit tercapai karena akan terlalu ramai dan kurang perhatian terapis pada pasien. Bila terlalu sedikitpun, terapi akan terasa sepi interaksi dan tujuanya sulit tercapai.

→ Leave a CommentCategories: Terapi Kelompok

PENGARUH TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK :LATIHAN ASERTIF TERHADAP EKSPRESI KEMARAHAN PADA KLIEN DENGAN RIWAYAT PERILAKU KEKERASAN

April 22, 2008 · Leave a Comment

 

 

Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons kecemasan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart & Sundeen, 1995:569).

Bila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang, biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku yang destruktif, sehingga terjadi perilaku kekerasan yang ditujukan pada orang lain, lingkungan dan diri sendiri.


Penatalaksanaan klien dengan riwayat kekerasan dapat dilakukan salah satunya dengan pemberian intervensi terapi aktivitas kelompok latihan asertif.

Terapi aktivitas kelompok latihan asertif merupakan salah satu terapi modalitas terapi keperawatan jiwa dalam
bentuk terapi kelompok dimana klien belajar mengkomunikasikan perasaan positif dan negatif secara terbuka, jujur dan tidak menyakiti orang lain.

Namun demikian terapi ini belum dijalankan oleh perawat secara teratur. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Budi Anna Keliat, dkk tahun 1997 tentang pelaksanaan TAK, hal ini karena kemampuan perawat dalam menjalankan kegiatan TAK belum memadai, pedoman pelaksanaan dan perawatan yang mewajibkan pelaksanaan TAK latihan asertif di Rumah Sakit belum ada. Selain itu referensi yang menjelaskan model TAK latihan asertif, faktor-faktor yang mempengaruhi dan dampak TAK latihan asertif terhadap klien dengan riwayat kekerasan belum diketahui secara jelas di Indonesia (Keliat, 1997). Dari uraian di atas, maka dipandang perlu untuk dilakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh terapi aktifitas kelompok (TAK) latihan asertif terhadap klien dengan riwayat perilaku kekerasan dan dapat membuktikan bahwa terapi ini bermanfaat bagi klien.

Terapi aktivitas kelompok secara Signifikan memberikan perubahan terhadap ekspresi kemarahan ke arah yang lebih baik pada klien dengan riwayat perilaku kekerasan. Pernyataan ini dapat dibuktikan dcngan adanya penurunan gangguan ekspresi kemarahan kelompok perlakuan setelah dilakukan terapi aktivitas kclompok sebesar 60,4%. Hal ini berbeda dengan penurunan gangguan ekspresi kemarahan kelompok kontrol yang setelah dilakukan terapi aktifitas kelompok hanya 2% saja.
Tampilan tabel 3 mengenai keadaan ekspresi kemarahan pada kedua kelompok baik kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol dapat dijelaskan adanya penurunan gangguan ekspresi kemarahan sangat bermakna yaitu p=0,00. Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh yang bermakna dari pemberian terapi aktivitas kelompok latihan asertif terhadap ekspresi kemarahan pada klien dengan riwayat perilaku kekerasan. Hal tersebut di atas sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Stuart dan Sundeen, 1995:563 bahwa kemarahan merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman terhadap individu. Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti hati orang lain, akan memberikan perasaan lega, ketegangan pun menurun dan perasaan marah dapat teratasi. Bila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang, biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian tentunya tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku destruktif, kekerasan yang ditujukan ke orang lain, lingkungan dan diri sendiri.

 

→ Leave a CommentCategories: Terapi Kelompok

Terapi Kelompok untuk Mengatasi Stres

April 22, 2008 · Leave a Comment

 

SITUASI mental yang tidak stabil, merupakan salah satu penyebab mudahnya seseorang terkena psikosomatis, yaitu rentannya kondisi tubuh terhadap berbagai penyakit karena faktor psikis (kejiwaan). Untuk itu perlu coping stress yaitu cara mengatasi stres yang sederhana dan mudah dilakukan dengan Solution Focus Group Therapy (terapi diskusi kelompok).

 

Jika sekelompok orang yang sedang mempunyai masalah mau menceritakan pengalamannya, dan mencurahkan emosinya kepada orang lain, maka akan tercipta perasaan empati satu sama lain.

 

Dari sini kekuatan untuk dapat bertahan menghadapi segala kesulitan hidup dapat diperoleh. Ini penting guna memunculkan kembali rasa kebersamaan, khususnya untuk penduduk di kota-kota besar yang telah pudar akibat tumbuh suburnya semangat individualitas penyebab masing-masing individu memikirkan kepentingannya sendiri.

 

Linda Metcalf berkata, bahwa solution focused group therapy dapat menjadi satu alternatif yang luar biasa bagi seseorang untuk sembuh dan keluar dari masalahnya serta menemukan satu solusi yang baik.

 

Lewat terapi ini mereka diajak berkumpul, dan saling membagikan cerita maupun perasaan yang sedang dialaminya terutama mengenai masalah yang sedang dihadapinya.

 

Tanpa sadar momen ini akan memancing inisiatif dan pemikiran terpendam dari masing-masing anggota untuk keluar.

 

Dapat Dihadapi

 

Kelebihan lain dari cara ini adalah bisa diterapkan dalam kondisi apa pun. Terlebih lagi, karena masyarakat kita mempunyai kebiasaan duduk-duduk di pos ronda, warung kopi, atau teras depan rumah hanya untuk ngobrol sampai berjam-jam.

 

Tidak hanya itu, saat jam istirahat kerja, atau pada waktu senggang kita selalu memanfaatkannya untuk ngobrol dengan sesama rekan. Faktor budaya seperti itu sangat mendukung penerapan metode ini dilaksanakan secara maksimal.

 

Disamping itu, juga melatih seseorang untuk sedikit demi sedikit memunculkan pemikiran-pemikiran kreatifnya sehingga tidak mudah menyerah dengan keadaan.

 

Di sini, berbagai ide sangat dihargai dan pasti didengarkan terutama ketika perasaan sebagai satu saudara sudah didapat. Orang yang memiliki tipe introvert akan terpancing untuk mencurahkan dan mengeluarkan pendapatnya dalam diskusi kelompok.

 

Kepribadian Terbuka

 

Proses menuju ke arah pembicaraan yang diinginkan memang seringkali tidak mudah, karena ada yang selalu berusaha menutupi dan menyimpan persoalannya sendiri dalam hati. Karena itu, diusahakan agar dalam satu kelompok didominasi oleh jenis kepribadian terbuka atau ekstrovert daripada introvert.

 

Masing-masing individu kemudian secara langsung termotivasi menjadi terapis kecil untuk dirinya sendiri.

 

Selanjutnya tahapan yang sebaiknya dilakukan adalah sebagai berikut: satu, buatlah satu kelompok kecil yang terdiri dari kurang lebih lima orang atau lebih dan mereka telah saling mengenal .

 

Dua, bukalah seluruh kesulitan, beban hidup yang dialami berkaitan dengan fokus perkara yang akan dibahas.

 

 Tiga, dengarkanlah dan hormatilah lawan bicara untuk mencurahkan semua perasaannya satu-persatu sampai tuntas, bahkan sampai menangis-pun boleh justru itu sangat efektif dan bagus untuk mengeluarkan emosi.

 

Empat, bukalah sesi di mana seluruh individu bebas untuk menimpali dan memotong lawan bicaranya dengan tujuan utama memberikan satu solusi yang berguna. Arahkan bersama untuk memikirkan apa yang terbaik bagi kelompok dan masyarakat.

 

Kekuatan utama terletak pada kemampuan verbal dan curhat dari anggota, karena proses healing (penyembuhan) terjadi di sini.

 

Segala luka-luka batin dan beban yang mengganjal dikeluarkan secara lugas dan ini membuat pertahanan diri manusia mulai terbuka sehingga orientasi ke arah diri sendiri atau ego-nya berkurang.

 

Untuk membantu orang dengan kepribadian yang benar-benar tertutup, bisa juga diberi sesi khusus sebelum diskusi dimulai. Yakni mempersilahkan menggambar pengalaman yang paling traumatis dalam hidupnya pada suatu kertas besar kemudian saling menceritakan pengalamannya.

 

Ini sangat membantu, khususnya untuk yang bertipe introvert agar mencurahkan emosi yang belum terselesaikan dan mempersiapkan masuk dalam topik pembicaraan.

 

Ada beberapa macam kegiatan pengganti selain menggambar. Misalnya menggunakan tanah liat dibentuk menjadi semacam benda yang mewakili perasaannya. Dengan cara yang sama mereka akan mengungkapkan apa yang dialami saat itu.

 

Setelah tahapan ini berhasil, kelompok terapi tersebut diharapkan membentuk satu grass root yang kokoh, kemudian dibuat jaringan yang tersusun dari tim-tim diskusi dengan insight-nya masing-masing yang menjadi komponen dan elemen inti dari wadah ini. (RB Yoga Kuswandono-11)

 

 

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

 

 

 

 

 

 

→ Leave a CommentCategories: Terapi Kelompok

Gangguan Jiwa setelah Bencana Tsunami

April 22, 2008 · Leave a Comment

 

SETELAH bencana tsunami di Aceh dan Sumatra Utara, apakah akan menjadikan trauma sangat berat atau katastrofi tersebut berlanjut menjadi gangguan jiwa? Atau apakah trauma itu akan menjadi ”hantu” seumur hidup?. Ilmu Psikiatri telah mengenali gejala-gejala gangguan ini, dan menggolongkannya sebagai Gangguan Stress Pasca Trauma (GSPT). Gejala-gejala GSPT meliputi trauma (Kriteria A), re-experiencing/re-koleksi kilas balik ingatan berulang (kriteria B), penghindaran dan penumpulan emosi (Kriteria C), hipersensitif dan iritabilitas meninggi terhadap rangsang (Kriteria D).

 

Trauma (Kriteria A), meliputi pengalaman langsung dan menyaksikan kejadian yang mengancam kematian serta respon terhadap kejadian berupa rasa takut yang sangat kuat dan rasa tidak berdaya. Re-experiencing (Kriteria B), meliputi rekoleksi ingatan kejadian berupa bayangan, pikiran dan persepsi. Seperti mimpi yang menakutkan dan berulang, merasa kejadian itu terjadi kembali, serta reaksi fisik dan psikis yang sama berulang pada saat terjadi, jika teringat trauma tsb.

 

Sementara penghindaran dan penumpulan emosi (Kriteria C), meliputi usaha menghindari pikiran, perasaan dan percakapan yang berhubungan dengan trauma, menghindari aktivitas dan lokasi yang mengingatkan dengan trauma, tidak mampu mengingat trauma, hilang minat dalam aktivitas, perasaan lepas dan asing pada lingkungan tempat trauma terjadi, kehilangan emosi dan perasaan menumpul, serta merasa kehilangan masa depan.

 

Sedangkan hipersensitif dan peninggian irritabilitas terhadap rangsang (Kriteria D), meliputi sulit tidur, ledakan kemarahan, sulit konsentrasi, waspada berlebihan, dan respon terkejut yang berlebihan.

 

Urutan Waktu

 

1. Prevalensi dan Epidemiologi

 

Hal paling menyusahkan mengenai suatu kejadian trauma adalah perasaan ketidakberdayaan yang sepenuhnya ditimbulkan. Ketidakberdayaan ini terjadi kembali dalam GSPT melalui hilangnya kontrol atas status pikiran, dengan reaksi lari dari kenyataan secara spontan, reaksi-reaksi yang mengejutkan atau ingatan yang terganggu mengenai kejadian trauma.

 

Kelompok terjadinya GSPT terhadap trauma spesifik, yakni bencana Alam (3,7% laki-laki, 5,4% wanita), Korban Kriminalitas (1,8% laki-laki, 21,8% wanita), Peperangan (38% laki-laki, 18% wanita), perkosaan (40,5% lakilaki, 65% wanita). Secara umum 10-20% seseorang terpapar trauma akan berkembang menjadi GSPT. Namun jika tidak terjadi GSPT, 77% korban berisiko terjadi gangguan depresi mayor.

 

Tanda-tanda kunci akan adanya GSPT yang menetap setelah trauma, yakni gagal remisi kembali normal setelah melewati fase akut (setelah 3 bulan). Adanya tekanan darah (tensi) meninggi, setelah 1 bulan pascatrauma dan abnormalitas fisiologi, mudah kaget serta terkejut berlebihan, setelah 3 bulan pascatrauma.

 

Penderita GSPT dikatakan memiliki prognosa baik, jika fungsi sebelum sakit baik, tidak adanya gangguan psikis (depresi-cemas), dan sosial ekonomi baik sebelum trauma serta setelah adanya trauma mendapat dukungan sosial yang tinggi dan sumber ekonomi cukup.

 

Dari penelitian tahun 1995, didapat data ada perbedaan bermakna penyembuhan/remisi antara terjadinya GSPT yang mendapat terapi dan sama sekali tidak mendapat terapi. Yakni enam bulan setelah trauma: 20% remisi dengan pengobatan, 10% remisi tanpa pengobatan. 18 bulan setelah trauma: 40% remisi dengan pengobatan, 20% remisi tanpa pengobatan. 40 bulan setelah trauma: 50% remisi dengan pengobatan, 30% remisi tanpa pengobatan. 60 bulan setelah trauma: 70% remisi dengan pengobatan, 50% remisi tanpa pengobatan.

 

2. Intervensi dan Pengobatan

 

Secara garis besar ada dua cara pengobatan GSPT, yakni terapi obat dan terapi psikis. Terapi obat yang dipakai adalah obat-obatan antidepresan khususnya golongan trisiklik (Amitriptyllin), golongan Monoamine Oxidase (Phenelzine), dan golongan SSRI (Fluoxetine, Sertraline, Paroxetine).

 

Obat-obatan ini dalam pengawasan dokter karena efek samping dan kecocokan respon obat terhadap gejala-gejala gangguannya. Psikoterapi, bisa dilakukan oleh siapa saja yang bisa melakukannya, berdasarkan prinsip-prinsip psikoterapi yang benar dan terukur. Psikoterapi ini termasuk psikoterapi individual dan kelompok.

 

Psikoterapi indivual sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang terlatih pada bidang psikoterapi. Tetapi psikoterapi kelompok, bisa dilakukan oleh siapa pun yang mampu memahami dasar-dasar psikoterapi. Pada keadaan bencana tsunami Aceh dan Sumatra Utara, maka psikoterapi kelompok lebih direkomendasikan, karena mempunyai beberapa keuntungan.

 

Yakni hanya sesama korban trauma yang dapat mengerti dan dapat memberi dorongan, reaksi emosi yang kuat dapat dibangkitkan dan diproses melalui terapi kelompok. Disamping itu dapat diberikan pada pasien dengan problem bahasa terapis/fasilitator, dan diberikan jika terapi individual tidak dapat diberikan, karena jumlah penderita banyak. Serta bila dibanding terapi obat dan individual, maka terapi ini lebih efektif untuk gejala penghindaran dan penumpulan emosi.

 

Pada penelitian subyek wanita, telah terbukti pada terapi kelompok menurunkan secara nyata gejala GSPT dan gejala depresi. Sementara psikoterapi kelompok meliputi beberapa model, yakni psikoterapi kelompok suportif, terapi kelompok berorientasi analitik, psikoanalisis kelompok, terapi kelompok transaksional dan terapi kelompok perilaku.

 

Terapi Kelompok Transaksional

 

Dari perbandingan model-model psikoterapi kelompok tersebut, maka yang cocok dengan keadaan GSPT di Aceh adalah terapi kelompok transaksional. Beberapa kriteria psikoterapi kelompok transaksional, yakni:

 

- Frekuensi satu sampai tiga kali seminggu, dengan lama enam bulan sampai tiga tahun.

 

- Dimulai dari wawancara skrining dengan indikasi utama GSPT.

 

- Isi komunikasi dalam kelompok adalah terutama hubungan dalam kelompok, riwayat trauma saat ini dan sekarang lebih diutamakan, hubungan positif antar anggota kelompok dipacu, tidak menganalisis mimpi.

 

- Didorong ketergantungan dalam kelompok, namun ketergantungan pada pimpinan tidak didorong.

 

- Aktivitas fasilitator menantang pertahanan aktif, memberikan respon pribadi, tidak dianjurkan memberi nasihat-nasihat.

 

- Interpretasi pola perilaku di sini dan sekarang (here and now).

 

- Proses utama kelompok adalah Abreaksi (suatu proses dengan mana material trauma yang di bawah sadar, dibawa kembali ke alam sadar. Pada keadaan ini seseorang tidak hanya mengingat tetapi menghidupkan kembali material, yang disertai respon emosional yang sesuai.

 

- Tilikan diri sendiri yang biasanya dihasilkan dari pengalaman.

 

- Sosialisasi diluar kelompok didorong.

 

Terapi kelompok model ini memiliki tujuan untuk terapi GSPT dengan mekanisme kontrol terhadap alam bawah sadar. Dari psikoterapi kelompok ini, jika mengikuti urutan pola perilaku dan proses belajar, maka urutan terapetik yang terjadi antara peserta dengan kelompoknya adalah:

 

1. Adanya gangguan psikis peserta diikuti dengan umpan balik dan pengamatan diri sendiri dari kelompok.

 

2. Adanya tempat berbagi reaksi psikis yang muncul, dan memeriksa bersama reaksi psikis tersebut.

 

3. Mengerti pendapat orang lain terhadap reaksi itu dan pendapat orang lain didalam kelompok. Dengan demikian muncul perasaan tanggungjawab, dan kepercayaan bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk berubah.

 

4. Dorongan kelompok mempercepat terjadinya perubahan ke arah perbaikan. Tugas fasilitator dalam kelompok ini menentukan kelompok terapi, situasi, ukuran, frekuensi, pembantu fasilitator.

 

5. Membentuk kelompok terapi dengan tujuan yang jelas, memilih klien dan membangun kultur kelompok secara nyata untuk memecahkan masalah yang sering muncul.

 

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, intervensi psikiatri pasti dibutuhkan dalam keadaan bencana besar seperti keadaan di Aceh dan Sumut. Sekarang adalah tugas semua orang untuk ikut membantu. Dari model-model yang sudah dilaksanakan sampai saat ini (misal kelompok terapi korban bom Bali dan korban DOM Aceh), maka Psikiater akan bekerja bersama dengan LSM dan kelompok relawan untuk membentuk kelompok-kelompok terapi ini. Hasilnya sangat memuaskan hingga saat dilaporkan pada Konperensi Nasional Psikoterapi di Bali pada bulan Oktober 2004.(Doker Arya Hasanuddin/PPDS Psikiatri, International Society of Hypnosis-35)

→ Leave a CommentCategories: Terapi Kelompok

Terapi Musik

March 18, 2008 · Leave a Comment

Tak heran jika kebanyakan orang yang tinggal di perkotaan mengalami masalah sulit tidur, sulit berkonsentrasi dan mengatasi stress dengan lingkungan yang sangat ramai. Salah satunya diakibatkan suara bising. Berlawanan dengan suara bising tersebut, yakni adalah kemampuan musik dimana dapat memperbaiki dan mempengaruhi kesehatan serta harmoni, yang juga sama hebatnya dengan kemampuan suara bising dalam menghancurkannya. Suara yang dihasilkan dari perpaduan alat musik ini, sejatinya dapat digunakan sebagai sarana pengobatan, yang seringkali disebut terapi musik.
Memang, hingga kini keutungan penuh dari terapi musik masih terus dalam penelitian, namun hingga sejauh ini hanya terdapat sedikit penelitian yang dilakukan terkait manfaat musik. Studi tentang kesehatan jiwa, sebagai contohnya, telah menunjukkan kalau terapi musik sangat efektif dalam meredakan kegelisahan dan stress, mendorong perasaan rileks serta meredakan depresi. Terapi musik membantu orang-orang yang memiliki masalah emosional dalam mengeluarkan perasaan mereka, membuat perubahan positif dengan suasana hati, membantu memecahkan masalah, dan memperbaiki konflik. Hal ini telah berhasil digunakan oleh sebuah institut selama mereka melakukan sesi terapi grup.
Efek yang menyembuhkan dari terapi musik tidak hanya terbatas pada kesehatan mental. Telah dilakukan pula observasi di rumah sakit, yang dilakukan pada pasien-pasien penderita luka bakar, penyakit jantung, diabetes dan kanker, musik juga memiliki kekuatan. Sebagai pelengkap dalam perawatan di panti rehabilitasi, terapi musik sepertinya memberi kekuatan komunikasi dan ketrampilamn fisik , begitu pula perannya dalam memperbaiki fungsi, baik fisik maupun mental, dari para penderita dengan gangguan syaraf atau gangguan mental. Dalam hal belajar, berbicara dan mendengarkan masalah, terapi musik juga memiliki peran tersendiri.
Terapi musik dapat mengurangi kebutuhan pengobatan selama kelahiran dan melengkapi fungsi matirasa dalam operasi dan perawatan gigi, terutam jika yang dirawat anak-anak serta pasien yang menjalani prosedur pembedahan. Musik juga berguna untuk mengatasi trauma pada bayi yang lahir premature. Disamping situasi akut ini, terapi musik juga membantu menghilangkan rasa sakit kronik.
Terapi musik dapat juga memperbaiki kualitas bagi pasien yang mengalami sakit berkepanjangan dan menambah kesehatan orang-orang jompo, termasuk penderita alzheimer dan bentuk lain dimensia. Musik juga telah digunakan untuk melengkapi perawatan AIDS, stroke, parkinson serta kanker. Selain itu, terapi musik juga berguna untuk mendukung keluarga dan individual layaknya pasien.
Saat berkonsultasi dengan ahli terapi musik untuk kondisi yang khusus, pertama-tama ahli terapi akan bicara pada pasien tentang gejala dan kebutuhannya sendiri. Sebagai tambahan, ahli terapi akan mengakses kesehatan emosi, kesehatan mental, fungsi sosial, kemampuan berkomunikasi dan kemampun kognitif dari pasien. Berdasarkan informasi ini, ahli terapi tersebut akan mendesain terapi yang sesuai untuk rencana perawatan, yang mungkin termasuk memutar dan mendengarkan musik, menganalisa lirik, menggubah lagu, memperbaiki dan/atau menggunakan perpindahan ritme.
Selama sesi reguler, ahli terapi mungkin berpartisipasi dalam aktivitas ini bersama pasien atau secara sederhana membimibingnya. Pasien bisa juga didorong untuk bicara tentang gambaran dan perasaan yang muncul saat musik tersebut diputar. Pasien dan ahli terapi akan memilih musik yang digunakan untuk terapi sesuai dengan kebutuhan dan selera. Pasien juga dapat memilih berbagai jenis aliran musik, dari musik klasik atau era baru hingga jazz sampai rock. Dan tak perlu pengalaman dibidang musik sebelumnya ataupun kemampuan bermain musik untuk menjalankan terapi musik ini.
Beberapa sesi terapi musik telah diatur dalam setting grup. Pasien menyajikan musik, dan pasien lain melakukan hal sama, atau bisa juga hanya berinteraksi dan rileks bersama-sama saat musik dimainkan. Pada saat pasien berada di rumah sakit untuk dioperasi atau melahirkan, ahli terapi musik ini ikut terlibat dengan memperdengarkan lagu-lagu favorit si pasien untuk membantunya lebih rileks dan mengurangi rasa sakit.
Terapi musik tak selalu membutuhkan kehadiran ahli terapi, walau mungkin Anda membutuhkan bantuan saat mengawalinya. Orang-orang Barat dapat dibilang masih baru dalam menemukan manfaat musik sebagai obat. Namun sebenarnya di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan metode semacam ini telah lama digunakan. Untuk mendorong Anda menciptkan sesi terapi musik sendiri, berikut ini beberapa dasar terapi musik yang dapat Anda gunakan untuk melakukannya.
  • Untuk memulai melakukan terapi musik, khusunya untuk relaksasi, Anda dapat memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Anda dapat juga menyempurnakannya dengan menyalakan lilin wangi aromaterapi guna membantu menenangkan tubuh.
  • Untuk mempermudah, Anda dapat mendengarkan berbagi jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh Anda. Lalu duduklah di lantai, dengan posisi tegak dengan kaki bersilangan, ambil nafas dalam-dalam, tarik dan keluarkan perlahan-lahan melalui hidung.
  • Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk Anda. Anda bisa memilih duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik itu mengalir keseluruh tubuh Anda, bukan hanya bergaung di kepala.
  • Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir keseluruh tubuh Anda. Bukan hanya Anda rasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Focuskan ditempat mana yang ingin Anda sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari Anda membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel-sel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam Anda.
  • Saat Anda melakukan terapi musik, Anda akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, Anda dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang Anda telah temukan sebagai yang paling berguna bagi diri sendiri.
  • Idealnya, Anda dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika Anda tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena selama waktu 10 menit itu musik telah membantu pikiran Anda beristirahat.

Kesimpulannya , melakukan terapi musik dapat dilakukan dengan sederhana, dapat mengatasi situasi yang manapun saat Anda butuhkan. Dalam dunia yang penuh kebisingan dan polusi suara, melakukan terapi musik mungkin cara terbaik untuk memulai revolusi menjalani hidup damai Anda sendiri!

 musictherapy.jpg

 

 

 

→ Leave a CommentCategories: Terapi Lingkungan

Terapi Lingkungan

March 18, 2008 · Leave a Comment

 A. Konsep Terapi Lingkungan

            Lingkungan telah didefinisikan dengan berbagai pandangan, lingkungan merujuk pada keadaan fisik, psikologis, dan social diluar batas system, atau masyarakat dimana system itu berada (Murray Z., 1985).

           

Pengertian Terapi Lingkungan (Milieu Therapy):

Berasal dari bahasa Perancis yang berarti perencanaan ilmiah dari lingkungan untuk tujuan yang bersifat terapeutik atau mendukung kesembuhan.

Pengertian lainnya adalah tindakan penyembuhan pasien melalui manipulasi dan modifikasi unsure-unsur yang ada pada lingkungan dan berpengaruh positif terhadap fisik dan psikis individu serta mendukung proses penyembuhan.

 Tujuan Terapi Lingkungan:

Membantu Individu untuk mengembangkan rasa harga diri, mengembangkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, membantu belajar mempercayai orang lain, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat.

Menurut Stuart dan Sundeen:   

  • Meningkatkan pengalaman positif pasien khususnya yang mengalami gangguan mental, dengan cara membantu individu dalam mengembangkan harga diri.
  • Meningkatkan kemampuan untuk berhubungan denagan orang lain
  • Menumbuhkan sikap percaya pada orang lain
  • Mempersiapkan diri kembali ke masyarakat, dan
  • Mencapai perubahan yang positif

 Karakteristi Terapi Lingkungan:

Lingkungan harus bersifat terapeutik yaitu: mendorong terjadi proses penyembuhan, lingkungan tersebut harus memiliki karakteristik sbb:

a.                   Pasien merasa akrab dengan lingkungan yang diharapkannya.

b.                  Pasien merasa senang /nyaman.dan tidak merawsa takut dengan lingkungannya.

c.                   Kebutuhan-kebutuhan fisik pasien mudah dipenuhi

d.                  Lingkungan rumah sakit/bangsal yang bersih

e.                   Lingkungan menciptakan rasa aman dari terjadinya luka akibat impuls-impuls pasien.

f.                    Personal dari lingkungan rumah sakit/bangsal menghargai pasien sebagai individu yang memiliki hak, kebutuhan dan pendapat serta menerima perilaku pasien sebagai respon adanya stress.

g.                   Lingkungan yang dapat mengurangi pembatasan-pembatasan atau larangan dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan pilihannya dan membentuk perilaku yang baru.

Disamping hal tersebut terapi lingkungan harus memilki karakteristik:

-         Memudahkan perhatian terhadap apa yang terjadi pada individu dan kelompok selama 24 jam.

-         Adanya proses pertukaran informasi.

-         Pasien merasakan keakraban dengan lingkungan.

-         Pasien merasa senang, nyaman, aman, dan tidak meraswa takut baik dari ancaman psikologis maupun ancaman fisik.

-         Penekanan pada sosialisasi dan interaksi kelompok dengan focus komunikasi terapeutik.

-         Staf membagi tanggung jawab bersama pasien.

-         Personal dari lingkungan manghargai klien sebagai individu yang memiliki hak, kebutuhan, dan tanggung jawab.

-         Kebutuhan fisik klien mudah terpenuhi.

 

Lingkungan Fisik

Aspek terapi lingkungan meliputi semua gambaran yang konkrit yang merupakan bagian eksternal kehidupan rumah sakit. Setting-nya meliputi :

-         Bentuk dan struktur bangunan.

-         Pola interaksi antara masyarakat dengan rumah sakit.

 

Tiga aspek yang mempengaruhi terwujudnya lingkungan fisik terapeutik:

-         Lingkungan fisik yang tetap.

-         Lingkungan fisik semi tetap.

-         Lingkungan fisik tidak tetap.

 Lingkungan Fisik Tetap

      Mencakup struktur dari bentuk bangunan baik eksternal maupun internal. Bagian eksternal meliputi struktur luar rumah sakit, yaitu lokasi dan letak gedung sesuai dengan program pelayanan kesehatan jiwa, salah satunya kesehatan jiwa masyarakat. Berada di tengah-tengah pemukiman penduduk atau masyarakat sekitarnya serta tidak diberi pagar tinggi. Hal ini secara psikologis diharapkan dapat membantu memelihara hubungan terapeutik pasien dengan masyarakat. Memberikan kesempatan pada keluarga untuk tetap mengakui keberadaan pasien serta menghindari kesan terisolasi.

      Bagian internal gedung meliputi penataan struktur sesuai keadaan rumah tinggal yang dilengkapi ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi tertutup, WC, dan ryang makan. Masing-masing ruangan tersebut diberi nama dengan tujuan untuk memberikan stimulasi pada pasien khususnya yang mengalami gangguan mental, merangsang memori dan mencegah disorientasi ruangan.

      Setiap ruangan harus dilengkapi dengan jadwal kegiatan harian, jadwal terapi aktivitas kelompok, jadwal kunjungan keluarga, dan jadwal kegiatan khusus misalnya rapat ruangan.

Lingkungan Fisik Semi Tetap

      Fasilitas-fasilitas berupa alat kerumahtanggaan meliputi lemari, kursi, meja, peralatan dapur, peralatan makan, mandi, dsb. Semua perlengkapan diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan pasien bebas berhubungan satu dengan yang lainnya serta menjaga privasi pasien.

 Lingkungan Fisik Tidak Tetap

      Lebih ditekankan pada jarak hubungan interpersonal individu serta sangat dipengaruhi oleh social budaya.

Lingkungan Psikososial

Lingkungan yang kondusif yaitu fleksibel dan dinamis yang memungkinkan pasien berhubungan dengan orang lain dan dapat mengambil keputusan serta toleransi terhadap tekanan eksternal.

Beberapa prinsip yang perlu diyakini petugas kesehatan dalam berinteraksi dengan pasien:

  1. Tingkah laku dikomunikasikan dengan jelas untuk mempertahankan, mengubah tingkah laku pasien.
  2. Penerimaan dan pemeliharaan tingkah laku pasien tergantung dari tingkah laku partisipasi petugas kesehatan dan keterlibatan pasien dalam kegiatan belajar.
  3. Perubahan tingkah laku pasien tergantung pada perasaan pasien sebagai anggota kelompok dan pasien dapat mengikuti atau mengisi kegiatan.
  4. Kegiatan sehari-hari mendorong interaksi antara pasien.
  5. Mempertahankan kontak dengan lingkungan misalnya adanya kalender harian dan adanya papan nama dan tanda pengenal bagi petugas kesehatan.

  B. PERAN PERAWAT DALAM TERAPI LINGKUNGAN

1.      Pencipta lingkungan yang aman dan nyaman

a.       Perawat menciptakan dan mempertahankan iklim/suasana yang akrab, menyenangkan, saling menghargai di antara sesame perawat, petugas kesehatan, dan pasien.

b.      Perawat yang menciptakan suasana yang aman dari benda-benda atau keadaan-keadaan yang menimbulkan terjadinya kecelakaan/luka terhadap pasien atau perawat.

c.       Menciptakan suasana yang nyaman

d.      Pasien diminta berpartisipasi melakukan kegiatan bagi dirinya sendiri dan orang lain seperti yang biasa dilakukan di rumahnya. Misalnya membereskan kamar.

2.      Penyelenggaraan proses sosialisasi:

a.       Membantu pasien belajar berinteraksi dengan orang lain, mempercayai orang lain, sehingga meningkatkan harga diri dan berguna bagi orang lain.

b.      Mendorong pasien untuk berkomunikasi tentang ide-ide, perasaan dan perilakunya secara terbuka sesuai dengan aturan di dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

c.       Melalui sosialisasi pasien belajar tentang kegiatan-kegiatan atau kemampuan yang baru, dan dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuan dan minatnya pada waktu yang luang.

3.      Sebagai teknis perawatan

Fungsi perawat adalah memberikan/memenuhi kebutuhan dari pasien, memberikan obat-obatan yang telah ditetapkan, mengamati efek obat dan perilaku-perilaku yang menonjol/menyimpang serta mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul dalam terapi tersebut.

4.      Sebagai leader atau pengelola.

Perawat harus mampu mengelola sehingga tercipta lingkungan terapeutik yang mendukung penyembuhan dan memberikan dampak baik secara fisik maupun secara psikologis kepada pasien.

  Jenis-jenis Kegiatan Terapi Lingkungan

1.      Terapi rekreasi

Yaitu terapi yang menggunakan kegiatan pada waktu luang, dengan tujuan pasien dapat melakukan kegiatan secara konstruktif dan menyenangkan serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial.

2.      Terapi kreasi seni

Perawat dalam terapi ini dapat sebagai leader atau bekerja sama denagn orang lain yang ahli dalam bidangnya karena harus sesuai dengan bakat dan minat.

a.       Dance therapy/menari

b.      Terapi musik

c.       Terapi dengan menggambar/melukis

Dengan menggambar akan menurunkan ketegangan dan memusatkan pikiran yang ada.

d.      Literatur/biblio therapy

Terapi dengan kegiatan membaca seperti novel, majalah, buku-buku dan kemudian mendiskusikannya.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan wawasan diri dan bagaimana mengekspresikan perasaan/pikiran dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma yang ada.

3.      Pettherapy

Terapi ini bertujuan untuk menstimulasi respon pasien yang tidak mampu mengadakan hubungan interaksi dengan orang-orang dan pasien biasanya merasa kesepian, menyendiri.

4.      Planttherapy

Terapi ini bertujuan untuk mengajar pasien untuk memelihara segala sesuatu/mahluk hidup, dan membantu hubungan yang akrab antara satu pribadi kepada pribadi lainnya.

 Terapi Lingkungan pada Kondisi Khusus

  1. Pasien rendah diri (low self esteem) , depresi (depression) bunuh diri (suicide).

Syarat lingkungan secara psikologis harus memenuhi hal-hal sbb:

-         Ruangan aman dan nyaman.

-         Terhindar dari ala-alat yang dapat digunakan untuk mencederai diri sendiri atau orang lain.

-         Alat-alat medis, obat-obatan, dan jenis cairan medis di lemari dalam keadaan terkunci.

-         Ruangan harus ditempatkan di lantai satu dan keseluruhan ruangan mudah dipantau oleh petugas kesehatan.

-         Tata ruangan menarik dengan cara menempelkan poster yang cerah dan meningkatkan gairah hidup pasien.

-         Warna dinding cerah.

-         Adanya bacaan ringan, lucu, dan memotivasi hidup.

-         Hadirkan musik ceria, tv, dan film komedi.

-         Adanya lemari khusus untuk menyimpan barang-barang pribadi pasien.

 

Lingkungan sosial:

-         Komunikasi terapeutik dengan cara semua petugas menyapa pasien sesering mungkin.

-         Memberikan penjelasan setiap akan melakukan kegiatan keperawatan atau kegiatan medis lainnya.

-         Menerima pasien apa adanya jangan mengejek serta merendahkan.

-         Meningkatkan harga diri pasien.

-         Membantu menilai dan meningkatkan hubungan social secara bertahap.

-         Membantu pasien dalam berinteraksi dengan keluarganya.

-         Sertakan keluarga dalam rencana asuhan keperawatan, jangan membiarkan pasien sendiri terlalu lama di ruangannya.

 

  1. Pasien dengan amuk.

Lingkungan fisik:

-         Ruangan aman, nyaman, dan mendapat pencahayaan yang cukup.

-         Pasien satu kamar, satu orang, bila sekamar lebih dari satu jangan dicampur antara yang kuat dengan yang lemah.

-         Ada jendela berjeruji dengan pintu dari besi terkunci.

-         Tersedia kebijakan dan prosedur tertulis tentang protocol pengikatan dan pengasingan secara aman, serta protocol pelepasan pengikatan.

 

Lingkungan Psikososial:

-         Komunikasi terapeutik, sikap bersahabat dan perasaan empati.

-         Observasi pasien tiap 15 menit.

-         Jelaskan tujuan pengikatan/pengekangan secara berulang-ulang.

-         Penuhi kebutuhan fisik pasien.

-         Libatkan keluarga.  

 

→ Leave a CommentCategories: Terapi Lingkungan

Macam-Macam Terapi Lingkungan

March 18, 2008 · Leave a Comment

Terapi
KapanLagi.com – Model terapi rehabilitasi yang dapat digunakan untuk membantu seseorang melepaskan diri dari kecanduan dan merubah perilakunya menjadi lebih baik:

Model Terapi Moral
Model ini sangat umum dikenal oleh masyarakat serta biasanya dilakukan dengan pendekatan agama/moral yang menekankan tentang dosa dan kelemahan individu. Model terapi seperti ini sangat tepat diterapkan pada lingkungan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan dan moralitas di tempat asalnya, karena model ini berjalan bersamaan dengan konsep baik dan buruk yang diajarkan oleh agama. Maka tidak mengherankan apabila model terapi moral inilah yang menjadi landasan utama pembenaran kekuatan hukum untuk berperang melawan penyalahgunaan narkoba.

Model Terapi Sosial
Model ini memakai konsep dari program terapi komunitas, dimana adiksi terhadap obat-obatan dipandang sebagai fenomena penyimpangan sosial (social disorder). Tujuan dari model terapi ini adalah mengarahkan perilaku yang menyimpang tersebut ke arah perilaku sosial yang lebih layak. Hal ini didasarkan atas kesadaran bahwa kebanyakan pecandu narkoba hampir selalu terlibat dalam tindakan a-sosial termasuk tindakan kriminal. Kelebihan dari model ini adalah perhatiannya kepada perilaku adiksi pecandu narkoba yang bersangkutan, bukan pada obat-obatan yang disalahgunakan. Prakreknya dapat dilakukan melalui ceramah, seminar, dan terutama terapi berkelompok (encounter group). Tujuannya tidak lain adalah melatih pertanggung-jawaban sosial setiap individu, sehingga kesalahan yang diperbuat satu orang menjadi tanggung-jawab bersama-sama. Inilah yang menjadi keunikan dari model terapi sosial, yaitu memfungsikan komunitas sedemikian rupa sebagai agen perubahan (agent of change.

Model Terapi Psikologis
Model ini diadaptasi dari teori psikologis Mc Lellin, dkk yang menyebutkan bahwa perilaku adiksi obat adalah buah dari emosi yang tidak berfungsi selayaknya karena terjadi konflik, sehingga pecandu memakai obat pilihannya untuk meringankan atau melepaskan beban psikologis itu. Model terapi ini mementingkan penyembuhan emosional dari pecandu narkoba yang bersangkutan, dimana jika emosinya dapat dikendalikan maka mereka tidak akan mempunyai masalah lagi dengan obat-obatan. Jenis dari terapi model psikologis ini biasanya banyak dilakukan pada konseling pribadi, baik dalam pusat rehabilitasi maupun dalam terapi pribadi.

Model Terapi Budaya
Model ini menyatakan bahwa perilaku adiksi obat adalah hasil sosialiasi seumur hidup dalam lingkungan sosial atau kebudayaan tertentu. Dalam hal ini, keluarga seperti juga lingkungan dapat dikategorikan sebagai “lingkungan sosial dan kebudayaan tertentu”.
Dasar pemikirannya adalah, bahwa praktek penyalahgunaan narkoba oleh anggota keluarga tertentu adalah hasil akumulasi dari semua permasalahan yang terjadi dalam keluarga yang bersangkutan. Sehingga model ini banyak menekankan pada proses terapi untuk kalangan anggota keluarga dari para pecandu narkoba tersebut.

→ Leave a CommentCategories: Terapi Lingkungan